MAROS | TOP-NEWS.CO.ID – Riuh lantunan ayat suci di arena Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXXIV Sulawesi Selatan berpadu dengan hiruk-pikuk transaksi di sudut lain Alun-Alun Bank Sulselbar Maros.
Di antara deretan stand pameran, milik Kabupaten Luwu Timur tampil mencuri perhatian. Bukan hanya karena warna kuning-biru yang mencolok, tetapi juga karena keramaian yang nyaris tak pernah surut.
Mengusung tagline “UMKM Berdaya, Luwu Timur Juara”, stand ini menjelma menjadi etalase kecil potensi ekonomi Bumi Batara Guru.
Sejak pagi, pengunjung silih berganti berdatangan. Ada yang sekadar melihat-lihat, namun tak sedikit yang akhirnya membawa pulang produk olahan khas sebagai buah tangan.
Aroma camilan lokal yang tersaji rapi di bagian depan stand seolah menjadi “pemanggil” alami.
Keripik dan aneka snack produksi pelaku UMKM Luwu Timur menjadi incaran, terlebih dengan kemasan yang kini tampil lebih modern dan menarik.
Di bagian dalam, pengunjung diajak mengenal lebih jauh potensi daerah penghasil nikel itu.
Produk unggulan berbasis sumber daya alam dipajang dengan penataan yang informatif, memperlihatkan bahwa UMKM lokal tidak lagi sekadar bertumpu pada tradisi, tetapi juga mulai beradaptasi dengan kebutuhan pasar.
Tak berhenti pada produk fisik, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur juga memanfaatkan momentum ini untuk memperkenalkan inovasi layanan publik.
Program “3 Kartu Lutim Sakti” yang menjadi program unggulan dipromosikan melalui media visual, memberi gambaran bahwa pembangunan daerah turut menyentuh aspek kesejahteraan masyarakat secara luas.
Bagi sebagian pengunjung, pengalaman di stand ini meninggalkan kesan tersendiri.
Ardiansyah, warga Makassar yang datang bersama keluarganya, mengaku awalnya hanya berniat berkeliling.
“Awalnya cuma lewat, tapi karena tampilannya menarik jadi mampir. Ternyata produknya bagus-bagus dan layak jadi oleh-oleh,” ujarnya.
Pameran dalam rangkaian MTQ Sulsel 2026 ini diikuti oleh 24 kabupaten/kota, menjadikannya ruang kompetisi sekaligus kolaborasi dalam mempromosikan potensi daerah.
Di tengah nuansa religius yang kental, geliat ekonomi rakyat justru menemukan panggungnya sendiri.
Kehadiran stand UMKM Luwu Timur menjadi bukti bahwa syiar keagamaan dan penguatan ekonomi lokal bukan dua hal yang terpisah.
Di satu sisi, MTQ menghadirkan pesan spiritual, di sisi lain, ia membuka ruang nyata bagi pelaku usaha kecil untuk tumbuh, dikenal, dan menembus pasar yang lebih luas. (**)
