LUWU TIMUR | TOP-NEWS.CO.ID – Ditengah meningkatnya kekhawatiran publik terhadap dampak El Nino 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Luwu Timur akhirnya buka suara.
Kepala Pelaksana BPBD Lutim, dr. April, menegaskan bahwa lembaganya tidak pasif, melainkan sedang bergerak menyiapkan langkah mitigasi berbasis data.
Pernyataan ini merespons kritik masyarakat yang menilai BPBD lambat merespons peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi kemarau panjang tahun ini.
“Tidak ada yang kami abaikan. Saat ini kami fokus bekerja di lapangan untuk memastikan kesiapan nyata, bukan sekadar pernyataan di permukaan,” kata dr. April.
Pemetaan Risiko hingga Posko Siaga
BPBD mengklaim telah mengantongi peta kerawanan terbaru yang mencakup wilayah berisiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Data tersebut menjadi dasar penentuan prioritas intervensi, termasuk penempatan personel dan distribusi sumber daya.
Selain itu, BPBD mulai memperkuat kesiapan logistik air bersih dengan menggandeng PDAM dan instansi teknis.
Armada mobil tangki disiapkan untuk menjangkau wilayah yang diproyeksikan mengalami penurunan debit air.
Langkah lain yang disiapkan adalah pembentukan Posko Siaga El Nino dalam waktu dekat.
Posko ini akan mengintegrasikan unsur TNI, Polri, dan relawan guna mempercepat respons jika terjadi kebakaran lahan maupun krisis air.
Di sisi lain, BPBD mengakui komunikasi publik belum optimal. April menyebut kehati-hatian dalam menyampaikan informasi menjadi salah satu alasan agar tidak memicu kepanikan di masyarakat.
Meski demikian, ia memastikan pembaruan informasi dari BMKG tetap disalurkan melalui kanal resmi pemerintah hingga ke tingkat desa dan kecamatan.
Edukasi kepada petani juga mulai digencarkan bersama Dinas Pertanian, terutama terkait penyesuaian pola tanam di tengah ancaman kemarau panjang.
Puncak Risiko Diprediksi Agustus
BPBD memperkirakan puncak dampak El Nino akan terjadi pada Agustus mendatang.
Risiko utama yang diantisipasi meliputi krisis air bersih, meningkatnya potensi karhutla, serta gangguan sektor pertanian.
Masyarakat diimbau untuk mulai menghemat air dan tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar.
“Kami minta warga tetap tenang tapi siaga. Kesiapan kami sedang dipercepat agar saat kondisi memburuk, seluruh sistem sudah berjalan,” tegas dr. April. (**)
