MAKASSAR | TOP-NEWS.CO.ID – Di tengah hiruk-pikuk kota besar, secercah ketenangan hadir bagi warga Luwu Timur yang tengah berjuang mendampingi keluarga tercinta menjalani pengobatan.
Bukan di hotel berbintang atau penginapan mahal, melainkan di sebuah rumah sederhana yang kini menjadi tempat bernaung penuh harap, rumah singgah milik Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Rumah yang terletak di kawasan Tamalanrea ini perlahan menjadi “rumah kedua” bagi mereka yang datang dengan satu tujuan kesembuhan.
Bagi Jumati, warga Kecamatan Wasuponda, perjalanan ke Makassar awalnya dipenuhi kecemasan.
Ia harus mendampingi bapak mertuanya yang dirujuk untuk menjalani perawatan lanjutan. Namun, kekhawatiran soal tempat tinggal sempat membuatnya gelisah.
“Awalnya kami bingung mau tinggal di mana. Tapi kami dapat kabar ada rumah singgah dari pemerintah,” tuturnya, mengenang.
Sejak hari pertama menginjakkan kaki di rumah singgah itu, rasa cemasnya perlahan sirna.
Ia tak hanya menemukan tempat beristirahat, tetapi juga kenyamanan yang tak disangka.
Di dalam rumah tersebut, tersedia tempat tidur, kamar mandi, hingga perlengkapan memasak. Bagi Jumati, fasilitas itu lebih dari cukup.
Ia dan keluarganya kini hanya perlu fokus pada satu hal, kesembuhan orang yang mereka cintai.
Cerita serupa datang dari Matriel Sanco’o, warga Desa Tampinna, Kecamatan Angkona.
Sudah dua minggu ia menetap di rumah singgah itu, setia mendampingi anaknya yang akan menjalani operasi.
Baginya, rumah singgah bukan sekadar tempat tinggal sementara. Di sanalah ia mengumpulkan harapan, sembari menanti kabar baik dari ruang perawatan rumah sakit.
“Saya sangat bersyukur. Semua fasilitas ada, dan yang paling penting, kami tidak perlu memikirkan biaya tempat tinggal,” ujarnya lirih.
Di sela-sela masa penantian itu, Matriel bahkan sempat bertemu langsung dengan Bupati Luwu Timur. Ia menyampaikan kondisi anaknya yang telah beberapa kali menjalani operasi.
Pertemuan itu menjadi momen yang tak ia lupakan. Harapan yang sempat terasa berat, kini terasa lebih ringan dengan adanya perhatian dan bantuan yang ia rasakan.
Sementara itu, Josua, yang turut mendampingi adiknya menjalani proses operasi, merasakan hal yang sama.
Selama berminggu-minggu di Makassar, ia dan keluarganya tak lagi direpotkan oleh urusan tempat tinggal.
“Semua difasilitasi dengan baik. Kami merasa aman dan terbantu,” katanya singkat.
Rumah singgah ini merupakan salah satu bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Luwu Timur di bawah kepemimpinan Bupati Irwan Bachri Syam dan Wakil Bupati Hj. Puspawati Husler dalam memberikan pelayanan kesehatan yang menyeluruh bagi masyarakat.
Tak hanya memastikan akses pengobatan, pemerintah daerah juga menghadirkan solusi atas persoalan yang kerap luput dari perhatian, tempat tinggal bagi keluarga pasien rujukan.
Plt. Direktur RSUD I Lagaligo, dr. Irfan, menjelaskan bahwa layanan rumah singgah ini mulai berjalan sejak awal April 2026. Saat ini, tersedia tiga kamar hunian yang dapat dimanfaatkan oleh warga.
“Selama pasien masih menjalani perawatan, keluarga bisa tetap tinggal di rumah singgah. Tidak ada batasan waktu, selama kamar masih tersedia,” jelasnya.
Ke depan, jumlah kamar akan terus ditambah menyesuaikan kebutuhan.
Di rumah singgah itu, waktu berjalan dengan ritme yang berbeda.
Ada yang datang dengan cemas, ada pula yang pulang dengan lega. Namun satu hal yang sama semua menitipkan harapan.
Dan di tempat sederhana itulah, harapan-harapan itu dijaga, dirawat, dan dikuatkan. (kf)






