Tokoh Perdamaian Dunia Lintas Agama Kota Palopo, Haeril Al Fajri, saat dikonfirmasi melalui via telepon pada Rabu (15/04/2019).

PALOPO | TOPNEWS.id – Maraknya isu people power yang diserukan oleh beberapa elit nasional dianggap tidak mewakili seluruh rakyat Indonesia. Bahkan dianggap people power ini justru dikwatirkan semakin mempertajam konflik pasca pemilu 2019.

Hal tersebut diungkapkan oleh salah seorang Tokoh Perdamaian Dunia Lintas Agama Kota Palopo, Haeril Al Fajri, saat dikonfirmasi melalui via telepon pada Rabu (15/04/2019).

Menurutnya, tokoh-tokoh bangsa dan elit-elit politik nasional seharusnya tampil menenangkan masyarakat pasca pemungutan suara pada pemilihan umum (Pemilu) serentak 2019 lalu, yang menyebabkan memanasnya suhu politik seperti sekarang ini.

“Seruan people power yang disampaikan oleh tokoh-tokoh pendukung salah satu pasangan calon presiden akan memperkeru suasana menjelang penetapan pemenang Pilpres dan Pileg secara resmi oleh KPU pada 22 Mei Mendatang” kata Haerul.

Selain itu, Haeril juga mengungkapkan, bahwa seruan people power justru menciptakan kekisruhan baru, karena hal ini dianggap beririsan dengan muatan politik salah satu pasangan calon Presiden.

“Alasan yang mendasari seruan people power karena adanya kecurangn pada pemilu dianggap tidak tepat karena proses demokrasi Indonesia sudah menyiapkan wadah untuk menangani terkait dengan kecurangan pemilu,” terangnya.

“Saya pikir jika ada kecurangan pemilu baiknya dilaporkan ke Bawaslu, jika sudah penetapan dianggap tidak memuaskan bisa diajukan gugatan ke MK. Negara kita sudah mengatur koridornya,” tambah Haeril Al Fajri yang juga Pendiri Tana Luwu International Peace Maker.

People power yang diserukan menurut Haerul, bukan representase masyarakat Indonesia secara umum karena hasil survei menunjukkan diatas 70% masyarakat puas dengan kinerja pemerintah saat ini.

“Survei CSIS menunjukkan 72,9% masyarakat puas dengan kinerja pemerintahan jadi siapa yang mau melakukan people power?. Tentu yang kita harapkan pasca pemilu ini adalah rekonsiliasi bangsa sebagaimana yang diserukan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia Muhammadiyah dan NU,” katanya.

Sebagai seorang tokoh perdamaian lintas agama, Haerul berpesan agar semua elemen bangsa termasuk yang di daerah untuk tidak terprovokasi dan kembali merajut persatuan dan persaudaraan sesama anak bangsa

“Ayo kita di moment bulan ramadhan ini jalin silaturrahim beda pilihan dipilpres itu biasa kita negara demokrasi, sekarang kita rajut kembali persaudaraan untuk Indonesia yang damai,” pungkasnya. (**)