Penguuna Vape (Ilustrasi/Int)

TOP-NEWS.co.id – Badan Pengawas Obat dan Amerika Serikat atau FDA meluncurkan iklan pertamanya untuk mengedukasi risiko rokok elektrik atau vape pada remaja.

Pada Iklan tersebut menunjukkan seorang pesulap jalanan, Julius Dein, yang menggunakan trik mengubah vape menjadi rokok.

“Jika kamu mulai menggunakan vape, kamu akan lebih mudah mulai merokok,” kata si pesulap. “Ini bukan sihir, ini statistik.”

Kampanye tersebut ditayangkan di televisi di slot waktu dan saluran yang kemungkinan besar akan menjangkau pemirsa remaja. Kampanye iklan baru, bagian dari inisiatif anti-tembakau FDA, memperingatkan bahwa remaja yang melakukan vape lebih cenderung mulai merokok.

Baca Juga: Dua Pelaku Penganiayaan Seorang Dosen di Palopo Dibekuk Polisi

Vape awalnya diperkenalkan sebagai alternatif untuk rokok yang dapat membantu perokok melepaskan diri dari tembakau. Sebuah studi di Inggris, yang dimuat di New England Journal of Medicine pada Januari 2019 lalu menyimpulkan bahwa seseorang yang mencoba berhenti merokok lebih besar kemungkinannya berhasil jika mereka mencoba rokok elektrik ketimbang melakukan terapi pengganti nikotin lainnya.

Tapi, FDA menemukan fakta lain, vape dikaitkan dengan pintu masuk anak muda untuk mengenal rokok. Penelitian FDA menunjukkan bahwa setidaknya 20 persen siswa sekolah menengah telah menggunakan vape, dan jumlah itu diperkirakan meningkat.

Pada 2018, data Centers for Disease Control and Prevention atau CDC dan FDA menunjukkan bahwa lebih dari 3,6 juta remaja Amerika Serikat, termasuk 1 dari 5 siswa sekolah menengah dan 1 dari 20 siswa sekolah menengah, menggunakan rokok elektrik. Data ini membuat orang tua dan profesional kesehatan khawatir karena rokok elektrik juga mengandung nikotin yang membuat ketagihan.

Matthew L. Myers, presiden dari Campaign for Tobacco-Free Kids, mengatakan kepada ABC News bahwa anak-anak yang mulai menggunakan rokok elektrik jauh lebih mungkin menggunakan rokok tradisional.

Baca Juga: Bubarkan Judi Sabung Ayam, Polsek Waru Amankan 16 Taji

Di acara Good Morning America, Kepala Koresponden Medis ABC News Dr Jennifer Ashton menjelaskan bagaimana rokok elektrik dapat mempengaruhi remaja. Ia mengatakan, otak anak dan remaja yang sedang berkembang sangat sensitif terhadap bahan kimia.

“Kita tahu nikotin sangat adiktif yang dapat mengakibatkan kurangnya konsentrasi dan benar-benar dapat menjadi pintu gerbang dan dapat mengakibatkan kesulitan dengan kontrol impuls,” kata Ashton.

Stanton Glantz, Ph.D, ahli kesehatan yang juga aktivis kontrol tembakau Amerika Serikat mengatakan bahwa partikel yang diuapkan vape dapat menyebabkan peradangan di jantung dan paru-paru seperti saat merokok.

“Mereka mungkin tidak seburuk rokok tradisional, tetapi masih sangat buruk,” kata Stanton, seperti dikutip Men’s Health.

Untuk remaja yang sudah terlanjur mengenal vape, berikut beberapa hal yang bisa membantu mengurangi kebiasaan ini. Berolahragalah teratur, hindari pemicu seperti stres, dan berkonsultasi dengan terapis jika dibutuhkan.(**)