TOPNEWS.CO.ID- Apa arti sebuah angka jika berdiri sendiri. Angka hanyalah sebuah simbol digunakan pada bilangan untuk menggambarkan nomor pada posisional di sistem bilangan (Wikipedia). Belajar angka-angka menjadi penting dalam kehidupan manusia, termasuk dalam menjalankan agamnya. Dengan memahami angka, umat Islam dapat mengetahui berapa jumlah shalat fardhu, jumlah rakaat, kapan masuk waktu shalat, memulai puasa, kapan hari raya Idul Adha, Idul Fithri, dan sebagainya.
Selain sebagai simbol, terkadang ada angka yang dianggap sebagai angka keberuntungan dan angka sial oleh sebagaian masyarakat. Padahal segala keberuntungan bukanlah datang dari angka-angka yang dibuat oleh manusia. Keberuntungan adalah mutlak atas karunia Allah kepada hamba-Nya.
فَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ (٦٤)
“Maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmatNya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi.” (QS Al-Baqarah[2]: 64).
Namun demikian, bukan berarti angka selalu tak memiliki makna sama sekali, apalagi bila ia terkait dengan sesuatu yang agung. Syekh Muhammad Syatha Dimyathi dalam Kifâyatul Atqiyâ wa Minhâjul Ashfiyâ mengungkap makna angka 7 dan 24 di balik lafal Lâ ilâha illa-Llâhu Muhammad Rasuulullah. Angka-angkat itu sendiri sebenarnya cuma angka biasa. Hanya saja, 7 dan 24 di tangan Syekh Muhammad Syatha Dimyathi bisa menjadi alat bantu menemukan keistimewaan dalam sebuah kalimat.
Pertama, angka tujuh. Syekh Muhammad Syatha Dimyathi mengatakan:
وَيُقَالُ لَا اِلَهَ اِلَّا الله مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ سَبْعُ كَلِمَاتٍ وَلِلْعَبْدِ سَبْعَةُ اَعْضَاءٍ وَلِلنَّارِ سَبْعَةُ اَبْوَابٍ
فَكُلُّ كَلِمَةٍ مِنْ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ السَبْعِ تُغْلِقُ بَابًا مِنْ اَبْوَابِ النَّارِ السَبْعَةِ عَنْ كُلِّ عُضْوٍ مِنَ الْاَعْضَاءِ السَبْعَةِ
“Dikatakan, lafal Lâ ilâha illa-Llâhu Muhammad Rasuulullah terdiri dari tujuh kata. Pada diri hamba pun terdapat tujuh anggota badan. Neraka juga memiliki tujuh pintu. Barangsiapa membaca tujuh kata ini, maka dapat mengunci pintu-pintu neraka dari setiap anggota badan yang tujuh.” (Syekh Muhammad Syatha Dimyathi, Kifâyatul Atqiyâ wa Minhâjul Ashfiyâ (Indonesia: Daru Ihya Al-Kutub Al-Arabiyah, hal. 109)
Tujuh anggota badan manusia merupakan sumber terjadinya kemaksiatan. Mata, lidah, telinga, tangan, perut, alat kelamin, dan kaki. Dengan membaca lafal Lâ ilâha illa-Llâhu Muhammad Rasuulullah yang berjumlah tujuh kata, harapannya Allah akan mengampuni dosa-dosa dari ketujuh anggota badan tersebut. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, riwayat al-Qurtubi:
Rasulullah bersabda, “Malaikat maut mendatangi seorang laki-laki dan memeriksa seluruh anggota badannya. Namun tidak ditemukan satupun kebaikan di dalamnya. maka kemudian membelah hatinya, disanapun tidak ditemukan adanya kebaikan. Sampai akhirnya ia merobek mulutnya dan ditemukanlah pada ujung lidahnya ada lafal Lâ ilâha illa-Llâhu. Maka ditetapkan baginya surga.” (HR. Al-Qurtubi).
Kedua, angka 24 (dua puluh empat). Setelah menjelaskan hubungan antara tujuh kata Lâ ilâha illa-Llâhu Muhammad Rasuulullah, tujuh anggota badan, dan tujuh pintu neraka, Ibnu Abbas menambahkan dengan angka 24 yang menunjukkan jumlah jam dalam sehari semalam. Jumlah ini sama dengan jumlah huruf pada lafal Lâ ilâha illa-Llâhu Muhammad Rasuulullah. maka barangsiapa membaca kalimat tersebut maka setiap hurufnya dapat melebur dosa selama satu jam.
Dari kedua penjelasan di atas dapat ditarik pada satu pemahaman adanya keutamaan bagi setiap yang membaca Lâ ilâha illa-Llâhu Muhammad Rasuulullah, sebagaimana sabda Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam:
مَنْ كَانَ اَخِرَ كَلَامِهِ مِنَ الدُّنْيَا لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa yang menutup perkataannya (ketika meninggal dunia) dengan lafal Lâ ilâha illa-Llâhu maka masuk surga,” (HR Abu Dawud dan Hakim).
Surga adalah milik Allah, siapa pun yang akan menghuninya pastilah atas kuasa dan rahmat dari Allah. Lafal Lâ ilâha illa-Llâhu Muhammad Rasuulullah menjadi salah satu ikhtiar manusia dalam menggapainya. Membacanya tentu dibarengi dengan keimanan dan ketakwaan serta amal shalih. Tidak cukup membaca kemudian mengharap surga Allah tanpa menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya. Wallahu a’lam. (NU ONLINE)
Jaenuri, Pengajar di Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta