Suasana pendidikan pengorganisasian bina desa, di Desa Galeso, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polman, Sulawesi Barat.

POLMAN | TOP-NEWS.CO.ID — Sekretariat bina desa kembali menggelar pendidikan pengorganisasian, di Desa Galeso, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polman, Sulawesi Barat.

Kegiatan yang dilaksanakan di lokasi komunitas nelayan dampingan Sekolah Pemuda Desa Galeso (SEPEDA Galeso), di laksanakan sejak Senin (17/12/2019) lalu.

Pendidikan pengorganisasian ini sendiri, diikuti oleh 30 peserta dari daerah sejumlah daerah yang ada di Provinsi Sulawesi Barat.

Tidak hanya dari Sulawesi Barat, beberapa peserta juga berasal dari Kota Palopo, Sulawesi Selatan yang berasal dari sejumlah lembaga yakni, GMKI, GMNI, IPMR, HAMBASTEM serta LINPER ( Lembaga Informasi dan Pendampingan Rakyat ).

Hal itu, diungkapkan oleh Fasilitator pendidikan pengorganisasian bina desa, John pluto, kepada Top-news.co.id dalam rilisnya, Rabu (18/12).

Dia mengharapkan agar peserta yang hadir mampu kembali ke komunitas untuk memberikan pendidikan informal kepada masyarakat.

“Dan membangun keberdayaan masyarakat menghadapi persoalan yang menimpa masyarakat desa,” katanya.

Ia melanjutkan, masyarakat harus berdaya intinya, masyarakat desa harus bisa menyelesaikan persoalan-persoalan yang semakin menggurita di setiap desa.

“Sehingga desa tersebut bisa memiliki kedaulatan pangan dan budaya serta kemandirian dibidang ekonomi dan politik.” tambah john.

Tidak hanya itu, dirinya juga menjelaskan jika para peserta juga diharapkan mampu menhadapi maraknya persoalan di desa terkait penggunaan dana desa dan kebijakan public oleh kepala desa maupun kepala daerah menjadi sorotan penting bagi kita semua.

“Olehnya pendidikan penggupasan UU Desa juga menjadi materi yang tidak tertinggal dengan harapan agar peserta setelah kembali ke wilayah masing-masing memiliki pengetahuan seperti apa desa dalam potret uu desa,” jelasnya.

Sementara, Pendiri LINPER Yertin Ratu menegaskan bahwa, Pendidikan Pengorganisasian ini, bertujuan melahirkan kader-kader yang siap hidup bersama rakyat dan siap menjadi fasilitator bagi masyarakat desa.

“Peserta diharapkan agar benar-benar siap memilih hidup di jalan yang jauh dari kekinian apalagi untuk generasi milineal yang saat ini lebih banyak memilih diskusi di warung kopi dibandingkan turun ke komunitas pedesaan,” tegas Yertin.

Sekedar diketahui, Pendidikan pengorganisasi ini adalah sekolah pedesaan dengan metode pendidikan orang dewasa (POD), dimana 30 orang Peserta yang hadir di putaran pertama akan kembali mengikuti putaran ke dua sampai pada putaran ke tiga. (Zha)