LUWU TIMUR | TOPNEWS.co.id – Belakang ini lembaga Script Survei Indonesia (SSI) telah merilis hasil survei untuk Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Luwu Timur. Dari hasil survei tersebut mengunggulkan pasangan calon bupati dan wakil bupati Muhammad Thoriq Husler berpasangan Budiman.

Akademisi dari Polinas LP3I Makassar, Anugerah Amir, menyatakan fenomena klaim unggul dari hasil survei elektabilitas menjelang pilkada sudah lumrah terjadi.

Olehnya itu, publik harus cerdas dalam membaca dan mengamati hasil survei. Musababnya, bisa jadi survei itu merupakan pesanan kandidat atau lembaga survei tersebut berafiliasi dengan kandidat.

“Publik memang harus hati-hati membaca hasil survei, apalagi menjelang hari pemilihan. Biasanya mendadak banyak muncul hasil survei elektabilitas kandidat yang hasilnya berlawanan, semisal lembaga survei A mengunggulkan B dan lembaga survei B memenangkan A,” ucap pria yang akrab disapa Anjas ini, Rabu (18/11/2020) dikutip rakyatsulsel.com.

Ia menegaskan bahwa hasil survei bukanlah penentu kemenangan atau acuan hasil pilkada. Hasil survei sebatas potret dari dinamika peta politik, itupun jika benar-benar dilakukan sesuai kaidah penelitian.

“Ya hasil survei itu bukan penentu kemenangan, bukan pula ‘kitab suci’ yang mana hasilnya merupakan kebenaran, apalagi banyak pengalaman hasilnya tidak akurat,” ucapnya.

Salah satu cara mengetahui andalan survei elektabilitas kandidat, Anjas menyebut selain membedah data juga bisa dengan mengecek rekam jejak lembaga survei. Bila track record lembaga survei itu selalu tepat, artinya dapat dipercaya. Sebaliknya, bila hasil surveinya sering keliru ditambah lagi punya kedekatan dengan kandidat, maka jangan dipercaya.

“Sederhana saja kok, lihat rekam jejak lembaga survei itu. Kalau hasil surveinya selama ini selalu tepat atau paling tidak mendekati realitas ya artinya bisa dipercaya. Namun, kalau lembaga surveinya sering keliru, lebih banyak melencengnya ya jangan dipercaya,” tambahnya.

Bila diamati, sambung Anjas ini, dengan rekam jejaknya, mayoritas lembaga survei itu kerap keliru sehingga patut diragukan. IPI bahkan berulang kali meleset dalam mengeluarkan hasil survei elektabilitas kandidat. Di antaranya saat Pilkada Gowa 2015 dan Pilkada Wajo 2018.

Di Pilkada Wajo 2018, IPI setidaknya dua kali merilis hasil survei elektabilitas yang menggunggulkan paslon Baso Rahmanuddin-KH Anwar Sadat (Barakka) ketimbang Amran Mahmud-Amran (Pammase). Bahkan, di survei terakhir IPI dinyatakan elektabilitas Barakka unggul 19,5% dari Pammase. Namun, hasil Pilkada Wajo 2018 ternyata dimenangkan Pammase.

Hal serupa juga terjadi pada Pilkada Gowa 2015. Kala itu, IPI beberapa kali merilis bahwa dari lima paslon, Tenri Olle YL-Hairil Muin unggul dibandingkan rivalnya. Namun, Pilkada Gowa 2015 nyatanya malah dimenangkan oleh Adnan Purichta Ichsan YL-Abd Rauf Malaganni.

Selanjutnya, CRC pernah membuat ‘kesalahan’ besar pada Pilkada Takalar 2017. Kala itu, lembaga survei tersebut mengunggulkan petahana Bur-Nojeng dengan elektabiltas mencapai 61,3%. Namun, hasilnya malah SK-HD yang disebut CRC hanya punya elektabilitas 29,8% tampil sebagai pemenang di Pilkada Takalar 2017.

Diketahui, Husler-Budiman merujuk survei SSI memperoleh 56,10 persen, sementara rivalnya Ibas-Rio hanya memperoleh 30,49 persen. Untuk swing voter atau belum menentukan pilihan sebanyak 13,41 persen. (**)